Aku terbang. Tidak, aku jatuh.
“Kamu mau ke mana?”
“Kamu mau lakukan apa?
“Kenapa kamu lakukan itu?”
Aku jatuh. Atau mungkin juga aku terbang.
“Bagaimana caramu melakukan itu?”
“Kapan kamu mau lakukan itu?”
Aku terbang. Aku jatuh. Aku terbang. Aku jatuh. Aku terbang. Aku jatuh.
“Kamu siapa?”
***
“HOAHM~”
Aku terbangun. Seperti biasa, lagi-lagi aku bermimpi. Dan seperti biasa juga, aku lupa apa yang aku impikan. Ah, lagipula itu semua tidak penting; aku punya setumpuk tugas yang belum aku selesaikan.
“Na, jam berapa sekarang?”
“Jam setengah tujuh. Dinda udah bangun dari tadi loh, masa kamu kalah?”
“Tapi kan kemarin aku baru datang jam setengah sebelas. Di luar hujan. Kamu tidur. Belum makan malam. Kerjaan banyak.”
“Salah sendiri ambil kerjaan di perusahaan terkenal. Ngeluhnya pasti keluar belakangan.”
Kapan ya, aku pernah denger Nina ngomong itu sebelumnya?
“Na!”
“Apa?”
Sekarang aku tinggal di apartemen sewaan di Jakarta. Gajiku sebagai manajer cukup untuk membiayai kebutuhan kami bertiga dan akhirnya Nina nggak kubolehkan untuk bekerja. Setelah ngambek selama seminggu, akhirnya kubolehkan dia untuk bekerja. Tapi entah kenapa, dasar wanita, dalam enam hari dia berhenti bekerja. Akhirnya sekarang dia cuma mengurus Dinda, belajar masak, menulis cerpen-cerpen untuk dia kirim ke majalah-majalah, dan menghabiskan uangku belanja kaos-kaos aneh yang dia temukan di internet. Yah, paling nggak dia nggak menghabiskan uangku belanja sepatu-sepatu atau tas-tas. Kaos kan bisa dilipat dengan mudah, kami nggak akan butuh lemari baru dalam waktu dekat.
Apartemen kami nggak begitu besar, cuma dua kamar dan satu dapur dan ruang makann, satu ruang tamu dan satu ruang keluarga. Well, mungkin cukup besar, tapi paling nggak aku dan Nina masih bisa berkomunikasi jarak jauh tanpa pakai handphone. Aku teriak dari kamar, dia teriak dari dapur. Dinda teriak dari dalam kereta bayinya yang tergeletak di depan televisi bobrok yang Nina bawa dari rumahnya.
“Masak apa?”
“Nasi goreng.”
Hahh, nasi goreng lagi.
“Hahh, nasi goreng lagi, kan?”
“Nggak kok, aku nggak mikir itu.”
“Dasar, alasan aja.”
***
“Di, kok lw tiba-tiba ngirim undangan sih?”
“Emang kenapa? Gak boleh?”
“Bukan gitu. Emang pacar dari mana?”
“Acara valentine yang lw kasih tahu setahun yang lalu.”
“AHHH SIALLLL!! Coba gw ikut juga.”
“Bfft. Jadi lw juga lagi kosong waktu itu, Man?”
“Bu-bukan urusan lw!”
***
“Selamat malam, Om, Tante.”
“Selamat malam, Nak Adi.
Dag dig dug dag dig dug. Sial, siapa yang bisa ngira sebelumnya kalau ketemu dengan dua orang manusia biasa, bukan presiden atau superhero, hanya dua orang manusia biasa, bisa semengerikan ini? Taring, nggak ada. Lidah bercabang dua, ekor berbisa, cakar tajam beracun, semua nggak ada.
“Perkenalkan, ini orang tua saya.”
Dan siapa yang bisa ngira kalau memperkenalkan dua orang yang sudah sangat kita kenal, yang sudah lebih dari dua puluh tahun bersama kita, bisa jadi semengerikan ini? Akhirnya aku tahu sekarang kenapa anak muda itu harus belajar pacaran. Sial, kenapa nggak kusadari hal ini sebelumnya?
“Nina, ini Adinya sudah datang.”
“Bentar, Pa.”
Nina akhirnya keluar dari kamarnya, menuju ke ruang tamu. Dia cantik, tapi maaf, aku tidak bisa mengatakan detilnya karena otakku sudah dipenuhi kegugupan sekarang.
“Adi…”
“Ni-“
KRIIIINGGG. Handphoneku berbunyi, nyaring sekali. Hore! Sumpah, kalau lagi kupegang handphone itu sekarang, dengan kemungkinan 99%, pasti akan kubanting ke tanah.
“Adi!” Ayah dan Ibuku memarahiku sedikit.
“Hahaha, tidak apa-apa kok.”
Kulihat layar handphoneku.
“Hahaha, maaf Om, alarm.”
***
“Di, hati-hati dong. Jangan ngebut!”
Samar-samar kudengar suara Nina yang sedang kubonceng dari balik helm non-standarku. Aku tidak biasa membawa motor dengan cepat, lagipula ini Jakarta, kecepatanku cuma sekitar 40-50 kilometer per jam, tapi Nina selalu takut kalau kubonceng. Kenapa, ya? Ah, mungkin saja memang ada orang di dunia ini yang terlalu peka kecepatan.
“Di, masih jauh?”
“Udah dikit lagi, kok.”
“Kok tokonya masuk-masuk gang sih?”
“Entah, mana kutahu. Entar deh kutanya waktu kita udah sampai. Oke?”
“Ja-jangan noleh! Bahaya!”
“Ya ampun, tenang aja napa? Aku juga nggak ngebut gini.”
Beberapa saat kemudian, kami sampai di sebuah kios buku bekas tempat aku biasa beli buku-buku yang udah nggak ada di toko buku lagi. Sebenarnya aku nggak terlalu suka membaca , tapi buku-buku yang kudapat dari toko ini semuanya luar biasa. Suasananya juga enak.
“Gimana, Na? Ketemu buku yang kamu cari?”
“Ketemu sih, cuma…”
“Cuma apa?”
“Mahal…”
“Ya udah, nih aku tambahin dulu.”
“Nggak apa-apa, nih? Tumben banget kamu mau nraktir-nraktir…”
“Siapa bilang? Utang!”
“Uugh..”
Dasar Nina. Masih belum bisa hemat.
“Di.”
“Apa?”
“Jangan ngebut-ngebut ya.”
“Nggak ngebut kok segitu.”
“Pokoknya hati-hati aja.”
“Ya.”
Entah bagaimana, mungkin Nina punya firasat. Tiga hari setelah kami beli buku “mahal” untuk Nina, sewaktu kami mau ke toko buku itu lagi untuk beli buku lagi, aku menabrak seorang anak kecil.
***
“Gimana dok?”
“Nggak apa-apa. Anak itu cuma shock sedikit, luka-lukanya nggak ada yang begitu parah.”
“Untung aja.”
Untung aja. Dasar hari sial, tadi pagi telat ke kantor, lupa bawa dompet jadi nggak bisa makan siang, telat datang ke janji sama Nina, dan sekarang aku nabrak anak kecil. Kecepatanku tadi cuma 25-an, ugh. Anak itu yang nyebrangnya nggak hati-hati. Sekarang rencanaku berantakan, ugh.
“Gimana, Di?”
“Dia nggak kenapa-napa sih.”
“Syukurlah.”
“Kenapa sih anak itu nggak bisa nyebrang dengan hati-hati? Dasa-“
“Adi! Jangan main nyalah-nyalahin orang gitu dong.”
“Aku nggak nyalahin orang, Na. Cuma kenyataannya aja yang kayak gitu. Iya, kan?
“Tetep aja, Di.”
“Ah, terserahmu aja lah!”
“Ya udah!”
Akhirnya setelah aku membayar uang pengobatan anak kecil itu, kuantar dia ke rumahnya, dengan terpaksa. Nina pulang sendiri setelah selama sekitar sepuluh menit kami cuma diam-diaman. Sial, hari ini hari yang sangat sial.
***
Kubuka pintu apartemenku. Sekarang jam 10.30 malam hari dan aku baru sampai di rumah setelah lembur ngerjain proyek baru bareng temen-temen di kantor. Manajer pemasaran, ya. Pekerjaan yang berat. Apalagi bidang ini sama sekali tidak ada hubungannya sama gelar yang kupegang. Insinyur Teknik Informatika. Yah, mungkin ada hubungannya, sih. Karena perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Dan bersama Iman aku pernah memenangkan kompetisi usaha kecil yang diadakan suatu bank.
“Dasar pelupa.”
Lampu ruang keluarga masih menyala dengan terang. Kemungkinan besar Nina lupa lagi mematikannya sebelum dia masuk ke kamar. Aku heran padanya, sudah umur segini masih juga pelupa, terutama untuk masalah lampu. Kadang dia lupa mematikan AC sebelum kami bertiga pergi ke dokter anak ketika Dinda demam. Dia juga pernah lupa mengambil laundry dan akhirnya pernah kami nggak jadi pergi ke kebun binatang karena nggak punya baju dan dia sudah nggak mood, kecapekan menyetrika dan melipat baju. Entah dia pelupa atau terlalu santai, ya…
“…capybara is an animal that is…”
Aku tersenyum. Ternyata dia ketiduran menungguku di luar, dengan remote di tangan kanannya, dan TV yang masih menyala, menayangkan saluran kesukaannya, Animal Planet. Kulihat di meja makan, ada dua buah piring yang belum tersentuh. Dan piring yang isinya entah apa, terlihat seperti rendang.
Ah, aku tahu. Dia pasti sengaja nggak makan malam karena nunggu aku pulang. Dia pasti mau pamer kalau dia sudah bisa masak rendang. Dasar, Nina. Well, bagus sih, cuma sekarang aku harus bersiap setiap hari selama seminggu menghadapi menu yang sama terus. Latihan. Pasti itu alasan Nina.
Nasi goreng dengan rendang, enak nggak ya?
Aku berjalan ke arah sofa tempat Nina tertidur sekarang. Sofa kulit biasa yang entah kenapa sangat enak untuk dipakai tidur.
“Nina.” Kukecup kening Nina. Dia terbangun, agak terkejut.
“Emm… Kamu sudah pulang. Gimana kantor?”
“Baik, kok. Ah, aku udah makan malam sih, tapi makan yuk.”
“Haa?”
“Makan.”
“Ah, iya! Aku udah bisa masak rendang, loh.”
Dengan terburu-buru, dia menaruh remote itu di atas sofa dan membawa dua piring tak terpakai tadi ke atas meja yang kutaruh di depan televisi.
“Hari ini kita makan di depan TV lagi?”
‘Kapan kita nggak?”
“Yah, buat apa kita beli meja makan kalau gitu?”
“Ya buat makan kalau ada tamu datang, lah. Ayah atau Ibu, mungkin? Atau kadang-kadang Ibu Joseph dari sebelah juga datang dan makan di sini.”
“Ibu Joseph? Yang udah tua itu?”
“Ya, yang itu. Kadang-kadang dia bawa cucunya main ke sini juga, loh. Si Michael itu. Uuuhhh lucu banget..”
Sambil bicara, dia bolak-balik ruang makan – ruang keluarga – ruang makan – ruang makan – ruang keluarga. Dalam beberapa menit, makan malamku yang kedua sudah siap. Sepiring nasi putih hangat dan rendang, dan segelas air putih dingin. Selamat makan!
“Gimana, enak?”
“Enak.”
***
Entah sejak kapan, aku sudah melupakan suatu hal yang sudah kukerjakan selama 5 tahun. 5 tahun yang panjang. Lovely. Mungkin sejak pikiranku penuh dengan pilihan-pilihan dan kebingungan-kebingungan ketika aku harus menjawab ‘pertanyaan’ itu? Mungkin sejak aku sibuk mengantar Nina ke mana-mana? Mungkin sejak aku mulai diterima bekerja dan mulai pulang larut malam? Mungkin sejak ayah Nina mengantarkan anaknya yang bergaun putih ke tanganku melewati alley panjang itu? Mungkin sejak Dinda lahir? Sejak apa?
Sekarang setiap aku membuka komputer, dan kulihat shortcut ke folder itu, aku tidak merasakan apapun kecuali perasaan nostalgia. Perasaan nostalgia yang kuat. Perasaan nostalgia yang terlalu kuat, malah. Jangan-jangan aku tidak melupakannya, sama sekali tidak melupakannya? Mungkin aku hanya tidak sempat menyentuh dan menyapanya saja?
“Adi, omong-omong.”
Ah, aku melamun. Aku lupa kalau Nina ada di belakangku, menunggu pointer bergerak.
“Kenapa, Na?”
“Itu, gimana kabar lovely?”
“Entah, aku nggak sempat aja nyentuh dia lagi. Kamu juga udah lama nggak nyentuh dia lagi, kan? Sejak kamu menemukan hobi barumu itu, hobi main kompor-komporan itu.”
“Jahat!”
Mungkin cuma nggak sempat, ya.
***
“Di, siapa istri lw itu, Nina?”
“Ya, kenapa?”
“Dia punya temen yang bisa dikenalin ke gw nggak?”
“Hmm, ada kayaknya.”
“Siapa?”
“Gw.”
“ADDDDIIIIIIII!!”
“Hahaha, iya, iya, entar gw tanyain.
***
BRAK
Suara yang keras. Suara daging beradu dengan logam. Di depan mobilku, sebuah tubuh wanita tergeletak di tanah. Nina teriak. Orang-orang di jalanan sudah mulai berkerumun mencoba menolong wanita itu. Nina masih teriak dan ketakutan. Dia sangat kaget. Bagaimana tidak, mobilku berjalan cukup pelan meskipun jalanan lengang. Namun tiba-tiba ada sekelebat bayangan maju ke depan mobilku yang sedang berjalan, menabrakkan dirinya pada bemper depan, lalu terpental beberapa meter ke depan. Hari ini minggu, pagi. Jalanan lengang tapi dia sekarang tergeletak di depan mobilku. Berdua bersama genangan cair berwarna merah.
Kubuka pintu mobilku dengan tergesa-gesa.
“Tolong! Tolong bantu saya bawa dia ke dalam mobil!”
Hari ini indah, langitnya cerah, biru terang. Cuma ada awan tipis saja, habis bersama hujan lebat kemarin malam. Hari ini indah.
Bersama dua orang pejalan kaki, kubawa tubuh wanita yang menggigil itu ke dalam mobilku, di bangku belakang. Dia masih sadar dan sehat, kelihatannya, untung saja. Kuminta satu dari dua orang itu untuk menemaniku. Kami berempat bergegas menuju rumah sakit terdekat, yang disarankan pejalan kaki itu.
Setelah sekitar sepuluh menit, kami sampai. Secepat yang aku bisa, aku keluar dan berlari menuju ke arah resepsionis dan meminta tindakan segera. Dalam beberapa menit tim dokter datang dan membawa tandu atau apalah namanya itu, dan memindahkan tubuh wanita yang masih menggigil itu ke atasnya, dan dengan cepat membawanya ke ruangan UGD.
Hari ini indah, langitnya cerah, biru terang. Cuma ada awan tipis saja, habis bersama hujan lebat kemarin malam. Hari ini harus jadi hari yang indah.
Beberapa puluh menit kemudian, setelah pejalan kaki itu pulang, dan Nina sudah sedikit tenang.
“Adi, kira-kira dia nggak apa-apa, kan?”
“Iya, aku kira dia nggak akan kenapa-napa kok.”
“Tapi, darahnya sebanyak itu.”
“Udah, nggak usah diingat lagi.”
“Adi, dia itu, dia coba bunuh diri, kan?”
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin iya. Nggak mungkin orang biasa yang sadar dan pikirannya masih normal tiba-tiba menabrakkan dirinya ke depan sebuah mobil yang sedang berjalan. Bunuh diri. Memikirkannya saja sudah bikin aku ngeri. Pasti ada masalah yang sangat besar.
“Kenapa sih di duia ini ada orang yang mau bunuh diri? Kan ngerepotin orang lain.”
“Entahlah, pasti ada saatnya orang dihadapkan ke masalah yang berat dan mereka nggak punya keberanian untuk menghadapinya. Semua orang pasti pernah mengalami hal yang seperti ini, aku yakin.”
“Tapi…”
“Bunuh diri, meskipun aku benci hal itu, Na, kukira wajar.”
Seorang suster datang kepada kami berdua.
“Anda keluarganya Ibu Jessica?”
“Jessica? Ah, maaf, mobil kami tadi yang menabraknya. Kenapa?”
Suster itu menjelaskan keadaan wanita yang kami tabrak tadi. Cuma patah tulang dan sedikit gegar otak ringan. Wanita itu pasti selamat, kata suster itu. Golongan darah wanita itu tidak langka, jadi walaupun hilangnya tidak sedikit, darahnya bisa segera diganti.
Aku dan Nina lalu duduk dan dengan refleks, bersandar ke dinding, dan menghela nafas. Untunglah.
“Hm-hmph.”
Tiba-tiba Nina tertawa kecil. Kenapa?
“Kenapa, Na?”
“Nggak, lucu aja.
“Lucu?”
“Iya. Kamu ingat kejadian yang dulu?”
“Yang mana?”
“Yang waktu kamu nabrak anak kecil, dan akhirnya aku ngambek dan kita pulang sendiri-sendiri.”
“Ah, yang itu. Ya, aku ingat. Kenapa emangnya dengan kejadian itu?”
“Sejak saat itu sampai sekarang, kamu sudah cuku banyak berubah, Di.”
Berubah? Hmm, mungkin saja.
END
24.10.09
20.10.09
Artificial
Aku suka matanya yang terpaku melihat layar kecil di dalam genggamannya itu. Terfokus, mencari setitik harapan dan menerawang. Jarinya yang terlatih mengetik balasan sms atau chat message terdiam, hanya sekali menekan softkey kiri atau softkey kanan. Sekali-kali dia tersadar, lalu menoleh padaku, dan meminta maaf karena tindakannya. Tidak usah, Adi. Nina ini suka kamu yang begitu.
“Na, kita makan di mana enaknya? Starbucks yuk.”
“Mahaal!”
“Ah, tapi aku butuh kopi nih, entar malam mau lembur lagi.”
“Di mana-mana kan ada kopi, kenapa harus Starbucks? Lagipula di sana isinya kopi semua, nggak bagus.”
“Ada jus, teh hijau dan air putih juga, kok. Tapi yah, terserahlah, kamu yang ngajakin ini.”
Yang hilang, terhisap dalam layar mungil, seperti anak kecil yang menunggu gerhana bulan di malam yang salah.
***
“Nina, kamu udah lihat respons yang ini? Setiap kali aku ketik ini pasti selalu hasil yang aneh yang keluar. Kenapa ya?”
“Kita nggak mungkin bicarain hal seperti ini via telepon, Di.”
Waktu kecil, sementara semua temanku bermain boneka india bermata biru atau bekel, aku menonton TV. Ayahku adalah kepala desa, dan waktu itu rumah kami adalah satu dari empat rumah di desa yang mempunyai TV. Hitam putih, bersemut dan kecil, layarnya gembung, tapi bagiku waktu itu layar TV kecil yang hitam putih dan bersemut adalah lem yang membuat duduk silaku tidak bisa diganggu.
TVRI pernah memutar sebuah serial yang entah apa namanya, aku sudah lupa. Entah apa ceritanya, aku juga sudah lupa. Yang kuingat cuma komputer yang bisa bicara sendiri. Yang suka menggoda tokoh utamanya yang entah siapa namanya. Laki-laki atau perempuan, aku juga sudah lupa.
“Aku ingin punya yang seperti itu”, ucapku saat itu. Naif dan bodoh.
***
“Salam kenal, panggil saja aku Nina.” Seorang perempuan muda berambut pendek lurus seleher membungkukkan badannya sedikit, tapi dengan kecepatan yang cukup untuk mengguncang kacamatanya.
“Awas, nanti kacamatamu jatuh. Namaku Adi, salam kenal.”
Hari itu Sabtu, malam hari sekitar jam sembilan, mereka berdua ada di dalam sebuah ruangan yang lampunya tidak punya niat untuk menyala. Atau hanya tidak tega untuk menyala dan kemudian memperlihatkan muka orang-orang yang ada di bawah tanggung jawabnya..
Sekitar dua puluh pasangan ada di dalam ruangan itu, masing-masing duduk dan mengobrol dengan sedikit ketergesaan, meskipun ketergesaan itu tidak menolong apa-apa terhadap kegugupan mereka satu sama lain. Orang-orang yang kurang beruntung, orang-orang yang memasang standar penerimaan terlalu tinggi, orang-orang yang tidak tahu cara meraih hati orang lain, orang-orang yang terlalu penunduk untuk melihat dunia, orang-orang yang datang hanya untuk iseng, orang-orang yang membuat orang menunduk setiap kali melihatnya, orang-orang yang putus asa karena masalah masing-masing berkumpul dalam ruangan yang berbayang merah itu.
“Ah, umurku 25.” Wanita berkacamata itu memulai percakapan lagi setelah lima menit mereka berdua habiskan dengan melamun.
“Aku 27.”
Diam.
“Er, tadi siapa namamu?”
“Adi.”
“Suka musik?”
“Nggak terlalu. Semuanya terlalu biasa.”
“Oh, oke.”
Diam.
“Suka minum apa?”
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa sih, cuma mau tahu aja. Cewek jaman sekarang suka bilang jus lah, teh hijau lah, air putih lah, cuma mau menyebarkan anggapan kalau mereka itu cinta kesehatan, padahal cuma takut gemuk.”
“Aku suka jus jeruk, teh hijau dan air putih.”
“Oh, pantesan kurus.”
“Aku jarang makan kok.”
Diam.
“Ngapain datang ke sini?”
“Disuruh teman-temanku.”
“Disuruh teman-temanku.”
“Teman kita suka ikut campur ya.”
“Entah.”
“Lalu orang tuamu sejutu?”
“Orang tuaku kegirangan.”
“Orang tuaku juga kegirangan.”
“Haha, jangan-jangan kamu kakakku ya? Orang tua kita kelihatannya sama.”
“Hahaha nggak mungkin. Aku lebih muda dari kamu 2 tahun. ”
“Ah.”
Diam.
”Hobimu apa?”
“Ah, mungkin kamu nggak ngerti.”
“Bilang aja, ngerti atau nggak ngerti juga nggak masalah.”
“AI.”
“Hei, sama.”
Seiring dua huruf vokal itu, mereka mulai mengobrol panjang lebar satu sama lain. Meskipun bukan tentang hal-hal sepele yang biasa orang-orang bicarakan di acara seperti ini.
“YAK, TUKAR PASANGAN!” Sang host bermuka tampan mengucapkan petunjuk permainan berikutnya. Orang-orang itu mulai berdiri dari masing-masing meja, dan mengakhiri pembicaraan mereka dengan penutup-penutup yang entah gugup, entah senang, entah sedih.
“Ini nomer handphoneku.”
“Dan ini punyaku.”
Meski tidak ada cinta yang terjadi saat itu, aku pulang dari acara 13 Februari itu dengan hasil yang bagus baik bagi orang tuaku. Mereka mendapati phonebook handphone putrinya mendapatkan tambahan kontak seorang laki-laki.
Sejak saat itu, kami mulai menjadi teman dekat.
From : Adi
“Nina, bisa bantuin aku nggak? Ketemu di kosanku, yuk.”
SMS yang to the point dan nggak mikirin kebiasaan. Yang kutahu, orang-orang nggak minta tolong kepada “orang lain” yang ia temui cuma sekitar satu jam, empat bulan sebelumnya. Dan cukup kurang ajar, karena sekarang sudah jam sebelas malam.
To : Adi
“Boleh. Kenapa? Kosanmu di mana?”
Dan balasan yang tidak kalah bodohnya.
***
Aku dan Adi punya mimpi yang sedikit sama. Mimpi Adi adalah berbicara dengan hal yang mungkin sudah tidak bisa lagi bicara balik padanya. Mimpiku adalah berbicara dengan sesuatu yang sejak awal tidak bisa bicara balik padaku. Kami suka bicara pada kekosongan.
Sejak film robot yang TVRI putar di dalam memoriku waktu kecil, aku jadi anak yang aneh. Aku suka bicara pada kursi goyang ayahku. Aku suka bicara pada baju yang temanku pakai. Aku suka bicara pada langit, aku suka bicara pada pohon.
***
Aku datang ke kos-kosannya Adi setiap Jumat siang, entah kenapa. Mungkin aku suka suasana kos-kosan cowok yang ditinggal penghuninya yang sedang pergi solat jumat semua, terasa sepi dengan sedikit sisa-sisa keramaian, entahlah. Hmm, mungkin aku sudah harus cukup bersyukur pemilik kos-kosan tempat Adi tinggal tidak melarang wanita masuk ke tempatnya.
Kamar yang Adi tempati cukup luas untuk dipakai seorang diri, bahkan masih muat untuk seorang penghuni lagi. Meja komputer, komputer, lemari, kasur, rice cooker, botol, water heater, botol, botol, galon, kardus-kardus dan buku-buku, dan terakhir karpet merah mengisi kamarnya. Setiap kali aku datang, dia memakai celana pendek dan berkaos putih, penampilan standar tanpa persiapan apapun atau ucapan “aku ganti baju dulu sebentar ya, Na”, tidak ada. Hal ini mungkin saja karena aku tidak memberitahunya, tapi pernah beberapa kali aku menelponnya untuk memastikan, dan tetap saja, celana pendek dan kaos putih. Mungkin dia memang orang yang terlalu cuek.
Banyak hal kami obrolkan di dalam kamar berukuran 4 x 6 itu. AI, AI, AI, robot buatan Jepang yang jadi posesif ke pemiliknya, AI, AI, cuaca, coklat, AI, AI, AI, cuaca lagi, berita yang kami baca acak dari koran atau internet, dan AI lagi.
“Di, kenapa sih kamu ingin sekali buat program AI yang kamu bisa ajak omong sendiri? Maksudku, yang seperti itu jarang dipeduliin orang, kan? Lagipula, udah ada kan yang kayak gitu di internet.”
“Nggak sama, Na, nggak sama. Dia nggak bicara seperti itu.”
“Dia?”
“Ah, lalu kamu sendiri, kenapa suka sama AI, Na?”
“Itu… Alasan yang sepele sih, Aku malu mau bilang.”
“Yah, kalau kamu nggak mau bilang, ya nggak apa-apa sih.”
“Itu…’
“Jadi mau bilang, nggak?”
Karena aku ingin ditanggapi.
***
Setelah itu akhirnya aku tahu tentang lovely. Aku tidak bisa bilang ini langsung padanya, tapi kupikir Adi hanya membuang waktu menunggu lovely. Membuang waktu mencoba mencari lalu meminta maaf pada lovely karena kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Membuang waktu memperbaiki hubungan yang tidak pernah terjalin, tali yang tidak pernah menyambung. Kalau dalam bahasa “waktu adalah uang”, Adi sudah banyak memberikan tumpukan uang dolarnya pada entah suku apa di dalam hutan mana. Baik hati tapi tidak berguna.
Tapi pikiranku ini juga bukannya tanpa bias. Sejak seminggu yang lalu, atau sejak kapan aku juga tidak yakin, mungkin sejak pertama kali kami bertemu di kafe berlampu remang-remang itu, aku suka pada Adi. Suka pada entah apa darinya, aku tidak tahu. Mungkin pada pandangan matanya yang kosong, menatap layar kecil yang ia genggam di tangan kirinya sambil sesekali menoleh padaku ketika kami makan bersama di warteg. Mungkin pada gerakan cekatan jemarinya menginput ribuan baris data ke dalam program AI bikinannya, atau mengetik beberapa karakter yang ia kirim padaku. Mungkin pada mimpi dan kesetiaannya pada kekasih yang belum sempat ia cintai itu.
Berulang kali aku berfikir di dalam kamarku yang dindingnya dipenuhi oleh kekosongan, tanpa poster satupun kecuali oleh beberapa lembar post-it berisi tugas-tugas atau resolusi tak beguna yang kubuat setiap bulan. Berfikir; “apakah harus kuganggu Adi dengan mimpinya itu?”, “apakah benar motivasiku adalah karena aku ingin kebaikan buatnya, dan bukan karena aku cemburu?”, “apakah hubungan kami nanti akan tetap sama setelah aku tiba-tiba datang masuk dan mempertanyakan Adi setelah selama ini aku membantunya untuk hal yang ingin kupetanyakan itu?”. Mungkin berlebihan, tapi aku tidak mau rasa cemburu merusak rasioku.
Atau rasio merusak rasa cemburuku.
Lagipula, aku bukan siapa-siapa baginya.
***
“Adi, kenapa sih si lovely itu, what to say, ya, nggak bisa lepas dari ingatanmu?”
“Nggak tahu.”
“Kok?”
Suasana jadi diam. Kulihat pandangan Adi sedikit berubah padaku. Matanya jadi waspada.
“Ibuku? Atau kakak perempuanku?
“Maksudmu apa, Di? Nggak kok, aku nggak disuruh mereka berdua.”
“Kamu…”
“Seriously, aku pun penasaran. Aku sudah tahu semua ceritanya darimu. Cerita yang kau tambahi dan kau kurangi sehingga cerita itu adalah kenyataan yang benar-benar kau alami. Bukan kenyataan yang ibumu, kakakmu atau lovely alami. Kamu bukan hanya menceritakan deskripsi luarnya, tapi juga deskripsi dalamnya.” Kataku sambil memegang dada Adi.
“Kamu jadi aneh, Na.”
“Yah, kalau kamu nggak mau jawab, gapapa sih.”
“…”
Suasana kembali diam. Diam dan gugup.
“Hffh…. Oke.”
“Oke?”
“Sejujurnya, aku juga nggak begitu tahu kenapa aku terus-terusan melakukan ini. Apakah karena aku mau berbicara lagi pada lovely? Atau karena apa? Kalau bukan karena itu, lalu karena apa? Sudah hampir 7 tahun aku coba menyelesaikan programku ini, karena apa? Apa yang kukejar? Entah karena cinta atau bukan, perasaan yang mendorongku ini aku nggak tahu kata yang tepat untuk menyebutnya. Yang pasti, ini nyata.”
“Cinta?”
“Cinta atau bukan.”
“Ah. Kalau begitu, penasaran?”
“Hmm, entahlah.”
“Ah, pas-“
“Kita nggak lagi main tebak-tebakan, Na.”
Kami berdua lalu menghela nafas bersama. Aku lalu berbaring di atas kasurnya yang agak sedikit apek, dan Adi bersila di atas karpet merah, menghadapku.
“Di.”
“Apa?”
“Coba tebak.”
“Tebak apa?”
“Pikiranku sekarang.”
“Mana aku tahu, masih bingung kenapa aku keukeuh dengan programku itu, emang apaan? By the way, kenapa dari awal tiba-tiba kamu tanya-tanya soal itu?”
Biar kujawab dua pertanyaanmu ini dengan satu kalimat, Di.
“Na?”
Aku cinta kamu.
END
Labels:
aoindonesia,
artificial,
cerita pendek,
cerpen,
kompasiana,
lovely
Subscribe to:
Posts (Atom)